Info Penting!
Telah dibuka! Program Awal Ramadhan 2017 *3 or *4 Ready!!!
Update
Dibuka!!Program Itikaf 15 Hari Hotel *3 Akhir Ramadhan 2017
Berita
Quota Haji plus Tahun 2019 Habis!!
0811 808 1025
0811 808 1025
0811 808 1025

0811 808 1025

AL-ANSHAR TRAVEL | HAJI UMROH | KBIH

Memakai Cadar; Ajaran Madzhab Imam Syafi’i yang Ditinggalkan

Saturday, May 24th 2014.
Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, M.A.

Memakai Cadar

Permasalahan cadar merupakan permasalahan khilafiyah di kalangan para ulama, tetapi perlu diingat bahwa para ulama telah sepakat memakai cadar hukumnya disyari’atkan, dan minimal mustahab (sunnah). Mereka (para ulama) hanya khilaf tentang kewajiban bercadar.

Hukum Cadar

Hukum Cadar

Cadar Menurut Madzhab Syafi’i

Yang anehnya ternyata pendapat yang menjadi patokan dalam Madzhab Syafi’iyah adalah wajibnya menutup wajah, bukan hanya disunnahkan! Akan tetapi, pendapat ini serasa asing dan aneh di tanah air kita yang nota bene sebagian besar penganut Madzhab Syafi’iyah.

Beberapa perkataan Imam Syafi’i berkaitan dengan cadar adalah:

 “Dan wanita berbeda dengan lelaki (dalam pakaian ihram-pen), maka wanita ihromnya di wajahnya adapun lelaki ihramnya di kepalanya. Maka lelaki boleh untuk menutup seluruh wajahnya tanpa harus dalam kondisi darurat, hal ini tidak boleh bagi wanita. Dan wanita jika ia nampak (diantara para lelaki ajnabi-pen) dan ia ingin untuk sitr (tertutup/berhijab) dari manusia maka boleh baginya untuk menguraikan/menjulurkan jilbabnya atau sebagian kerudungnya atau yang selainnya dari pakaiannya, untuk dijulurkan dari atas kepalanya dan ia merenggangkannya dari wajahnya sehingga ia bisa menutup wajahnya akan tetapi tetap renggang kain dari wajahnya, sehingga hal ini seperti penutup bagi wajahnya, dan tidak boleh baginya untuk menggunakan niqab” (Al-Umm 2/148-149)

Beliau juga berkata:

“Boleh bagi wanita (yang sedang ihram, -pen) untuk merenggangkan pakaiannya dari wajahnya, sehingga ia ber-sitr (menutup diri) dengan pakaian tersebut, dan ia merenggangkan khimarnya/jilbabnya lalu menjulurkannya di atas wajahnya dan tidak menyentuh wajahnya.” (Al-Umm 2/203)

Beliau juga berkata:

“Dan aku suka bagi wanita yang dikenal cantik untuk thawaf dan sa’i di malam hari. Jika thawaf di siang hari maka hendaknya ia menjulurkan bajunya menutupi wajahnya, atau ia thawaf dalam keadaan tertutup.” (Al-Umm 2/212)

Para ulama Syafi’iyah banyak yang mengatakan bahwa cadar itu wajib, namun ada juga yang mengatakan bahwa ketika shalat, wajah dan telapak tangan dibuka. Adapun di luar shalat, yaitu di hadapan lelaki asing maka wajah adalah aurat yang harus ditutup.

Berikut beberapa pernyataan ulama Syafi’iyah yang berkaitan dengan cadar.

Diantara mereka adalah:

(1) Imamul Haramain al-Juwaini, beliau berkata :

“…disertai kesepakatan kaum muslimin untuk melarang para wanita dari melakukan tabarruj dan membuka wajah mereka dan meninggalkan cadar…”(Nihaayatul Mathlab fi Dirooyatil Madzhab 12/31)

(2) Al-Ghazali rahimahullah, beliau berkata :

“Jika seorang wanita keluar maka hendaknya ia menundukkan pandangannya dari memandang para lelaki. Kami tidak mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat bagi wanita –sebagaimana wajah wanita yang merupakan aurat bagi lelaki- akan tetapi ia sebagaimana wajah pemuda amrod (yang tidak berjanggut dan tanpan) bagi para lelaki, maka diharamkan untuk memandang jika dikhawatirkan fitnah, dan jika tidak dikhawatirkan fitnah maka tidak diharamkan. Karena para lelaki senantiasa terbuka wajah-wajah mereka sejak zaman-zaman lalu, dan para wanita senantiasa keluar dengan bercadar. Kalau seandainya wajah para lelaki adalah aurat bagi wanita maka tentunya para lelaki akan diperintahkan untuk bercadar atau dilarang untuk keluar kecuali karena darurat” (Ihyaa Uluum Ad-Diin 2/47)

Sangat jelas dalam pernyataan Al-Ghazali diatas akan wajibnya bercadar, karena jelas beliau menyatakan bahwa wajah wanita adalah aurat yang tidak boleh dipandang oleh lelaki asing, karenanya para wanita bercadar. Jika wajah para lelaki adalah aurat yang tidak boleh dipandang oleh para wanita secara mutlak maka para lelaki tentu akan diperintahkan bercadar.

(3) Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, beliau berkata

“Dan diharamkan seorang lelaki dewasa memandang aurat wanita dewasa asing, demikian juga haram memandang wajahnya dan kedua tangannya tatkala dikhawatirkan fitnah, dan demikian juga haram tatkala aman dari fitnah menurut pendapat yang benar” (Minhaaj At-Thalibin hal 95)

(4) As-Subki rahimahullah, beliau berkata :

“Yang lebih dekat kepada sikap para ulama syafi’iyah bahwasanya wajah wanita dan kedua telapak tangannya adalah aurot dalam hal dipandang bukan dalam sholat” (Sebagaimana dinukil oleh Asy-Syarbini dalam Mughni Al-Muhtaaj Ilaa Ma’rafat Alfaazh al-Minhaaj 3/129)

(5) Ibnu Qaasim (wafat 918 H) rahimahullah, beliau berkata:

“Dan seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat kecuali wajahnya dan kedua telapak tangannya. Dan ini adalah auratnya dalam shalat, adapun di luar sholat maka auratnya adalah seluruh tubuhnya.” (Fathul Qoriib Al-Mujiib fi Syar Alfaadz at-Taqriib hal 84)

(6) Asy-Syarbini rahimahullah, beliau berkata :

“Dan dimakaruhkan seorang lelaki shalat dengan baju yang ada gambarnya, demikian juga makruh shalat dengan menutupi wajahnya. Dan dimakruhkan seorang wanita shalat dengan memakai cadar kecuali jika ia sholat di suatu tempat dan ada para lelaki ajnabi (bukan mahramnya-pen) yang tidak menjaga pandangan mereka untuk melihatnya maka tidak boleh baginya untuk membuka cadarnya” (Al-Iqnaa’ 1/124)

Kesimpulan

Memakai cadar merupakan perkara yang telah dikenal sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini. Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang pakaian wanita yang hendak ihram :

“Wanita yang ihram tidak boleh memakai cadar” (HR Al-Bukhari no 1837)

Hadits ini menunjukkan bahwa memakai cadar merupakan kebiasaan para wanita di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karenanya Nabi mengingatkan agar mereka tidak memakai cadar tatkala sedang ihram.

Tradisi kaum muslimat memakai cadar juga telah ditegaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar al-’Asqalaani rahimahullah. Beliau berkata :

“Berkesinambungannya praktek akan bolehnya para wanita keluar ke mesjid-mesjid dan pasar-pasar serta bersafar dalam kondisi bercadar agar mereka tidak dilihat oleh para lelaki. Dan para lelaki sama sekali tidak diperintahkan untuk bercadar…dan seiring berjalannya zaman para lelaki senantiasa membuka wajah mereka dan para wanita keluar dengan bercadar..” (Fathul Baari 9/337)

Ibnu Hajar juga berkata :

“Dan senantiasa tradisi para wanita sejak zaman dahulu hingga sekarang bahwasanya mereka menutup wajah-wajah mereka dari para lelaki asing.” (Fathul Baari 9/324)

Bagaimana penjelasan selengkapnya mengenai hal ini? Silakan download kajian ini dan simak penjelasan dari Ustadz Firanda Andirja, M.A. mengenai hal ini. Semoga bermanfaat.

Sumber: http://www.radiorodja.com/

Read more:

 

Incoming search terms:

  • hukum memakai cadar saat haji
  • hukum pakai cadar saat haji
  • larangan memakai cadar saat haji
  • perlengkapan wanita bercadar
  • Hadits yang menjelaskan tentang larangan memakai cadar dan menutupi tangan saat haji